Rao
Studio………….
Batam 25 Feb
2015,Asal Usul Mandailing{Rao Madina,mandailing natal)
Etnis
Mandahiling yang
seringpula didialekkan Mandailing, adalah 'suku bangsa' (orang Mandailing
menyebutnya Bangso Mandailing) yang mendiami 3 Provinsi di Pulau
Sumatera, yaitu Provinsi
Sumatera Utara, Provinsi
Sumatera Barat dan Provinsi Riau di Indonesia. Orang Mandailing di Provinsi
Sumatera Utara berada di Kabupaten Mandailing Natal, Kabupaten
Padang Lawas, Kabupaten Padang Lawas Utara, Kabupaten Tapanuli Selatan, Kabupaten
Labuhanbatu, Kabupaten Labuhanbatu Utara, Kabupaten Labuhanbatu Selatan, Kabupaten Asahan dan Kabupaten
Batubara sedangkan
di Provinsi
Sumatera Barat berada pada
Kabupaten
Pasaman dan Kabupaten
Pasaman Barat, dan di
[[Provinsi Riau}} berada di Kabupaten
Rokan Hulu. Pada awal
masa penjajahan Belanda, kesemua wilayah Mandailing awalnya masuk dalam Karesidenan Mandahiling atau Residentee Mandahiling di bawah Sumatra's West Kust
Gouvernement atau Gubernuran Pesisir Barat
Sumatera,
bersama-sama Karesidenan Padang Laut (Padang Lauik) dan Karesidenan Padang Darat (Padang Darek).
Ketika
Kesultanan Barus berhasil dikuasai Belanda (Setelah perjanjian di London Tracktaat Londonsche antara Kerajaan Inggris dan Kerajaan Belanda, yang menukar guling wilayah
Sumatera bagian utara yang awalnya diklaim Inggris dan wilayah Kalimantan
bagian utara yang awalnya telah dikuasai Belanda), termasuk Afdeeling Tanah Batak (Negeri Toba dan Negeri Silindung),
yang kalau itu berada di bawah Kesultanan Aceh, Karesidenan Mandailing dihapuskan. Sebagian wilayah
Mandailing digabungkan dalam wilayah Karesidenan
Tapanuli yang
berpusat di Tapian Na Uli (Tapanuli) di Barus, namun tetap dalam West Kust Sumatra's
Gouvernement. Sementara
itu wilayah Lubuksikaping (Pasaman dan Pasaman Barat) masuk dalam Karesidenan
Padang Darat dalam West Kust Sumatra's
Gouvernement, dan
wilayah Tambusai (Rokan Hulu) masuk dalam wilayah Riaw Gouvernement. Di lain
pihak sebagian lagi wilayah Mandailing masuk dalam Oost Kust Sumatra's
Gouvernement atau Gubernuran Pantai Timur
Sumatra, yaitu
wilayah Labuhanbatu, Asahan dan Batubara. Wilayah Mandailing yang masuk dalam Karesidenan
Tapanuli adalah
Mandailing Natal, Mandailing Angkola, Padangsidempuan, dan Mandailing
Padanglawas.
Semenjak
berdiri Karesidenan
Tapanuli, ibukota
Mandailing di kota Padangsidempuan dipindahkan secara berganti-ganti antara
Kota Tapanuli dan Kota Padangsidempuan. Ketika masih Karesidenan Mandailing, ibukotanya pertama kali di Air
Bangis sehingga dikenal sebagai Karesidenan Air Bangis, kemudian pindah ke Kotanopan, lalu ke Kota Panyabungan dan terakhir adalah Kota Padangsidempuan. Wilayah Karesidenan Mandailing inilah yang disebut sebagai wilayah
Kesultanan Mandailing dengan sultan terakhirnya adalah Raja Gadumbang (Lubis Nasution). Setelah itu,
pemerintahan Mandailing terpecah belah dalam beberapa Kuria yang dibentuk oleh Belanda dalam rangka Devide et Impera, hingga mencapai 50 Kuria. Kuria
sendiri berasal dari Bahasa
Arab, yaitu
'Qurya' yang berarti 'negeri', yang sering dipakai istilahnya dalam
pemerintahan Darul Islam Minangkabau selama masa perang Paderi untuk menggantikan istilah 'nagari'
atau 'negeri'.
Wilayah Kesultanan Mandailing dikenal juga sebagai Kesultanan Pagaruyung
Utara, yang
dahulu terpecah akibat turun tahtanya Raja Pagaruyung Daulat Yang Dipertuan
Raja Naro pada awal
abad ke-19, yang digantikan Daulat Yang Dipertuan
Muningsyah II oleh Baso Nan Ampek Balai (4 raja yang merupakan pengawas
tahta raja-raja Pagaruyung secara turun menurun menurut adat), yang berlanjut
dengan Perang
Paderi. Namun
perpecahan ini sudah disatukan semenjak Anwar Nasution yang mewakili pihak Kesultanan
Pagaruyung Utara yang berpusat di Aek Na Ngali (Aia Madingin) di Batang Natal, - beberapa tahun lalu -, diundang
pihak keluarga Kesultanan Pagaruyung (Selatan) di Batusangkar untuk kembali bersatu,
setelah 200 tahun terpecah kongsi akibat perang saudara. Pada masyarakat
Minangkabau, nama Mandailing atau Mandahiliang menjadi salah satu nama 'suku'
atau 'nama keluarga dari garis ibu' (sistem matrilineal) yang ada pada
masyarakat Minangkabau.
Mandailing bukan Batak..
Dalam rangka
devide et impera, banyak sejarahwan asing yang
dipengaruhi pemikiran Gubernur Jenderal Hindia Timur Thomas Stamford Raffless dalam rangka kristenisasi,
menjadikan Mandailing menjadi sub etnis dari Batak. Secara administrasi,
pemasukan Mandailing dalam sub etnis Batak dimulai pada masa pemerintahan
Belanda pada awal abad ke-20 lalu, walau pun orang-orang Mandailing yang
diwakili raja-raja Kuria menolak untuk disub etniskan dalam etnis Batak.
Akibatnya muncul peristiwa yang dikenal sebagai Riwajat Tanah Wakaf
Bangsa Mandailing di Soengai Mati, Medan pada tahun 1925, hingga berlanjut ke pengadilan.
Akhirnya,
berdasarkan hasil keputusan Pengadilan Pemerintahan Hindia Belanda di Batavia,
Mandahiling diakui sebagai etnis terpisah dari Batak, karena berdasarkan de
facto, etnis Batak sendiri sebenarnya lebih muda dari etnis Mandailing.
Berdasarkan silsilah yang diakui etnis Batak sendiri dalam Tarombo Si Raja Batak,- Si Raja Batak merupakan nenek
moyang orang Batak, ibunya yang bernama Deak Boru Parujar berasal dari etnis
Mandailing. Jadi sebelum ada etnis Batak, etnis Mandailing sudah ada. Etnis
Mandailing sendiri, menurut silsilahnya berasal dari etnis Minangkabau.
Asal usul nama
Mandailing atau Mandahiling diperkirakan berasal dari 2 kata
dari bahasa Sanskerta (Melayu/Jawa Kuno), yaitu kata Mandala dan Holing. Mandala berarti pusat dari federasi beberapa
kerajaan, sedangkan Holing/Hiling/Kalingga berasal dari nama Kerajaan Kalinga. Kerajaan Kalingga diperkirakan berdiri sebelum
digantikan Kerajaan
Sriwijaya pada abad
ke-7 dengan raja terakhirnya Sri Paduka Maharaja
Indrawarman putra dari Ratu Shima. Sri Maharaja Indrawarman juga merupakan saudara kandung dari
Raja Sanjaya yang membentuk Mataram Hindu di Pulau Jawa, setelah menikahi Ratu Galuh, yang di kemudian hari disebut juga
sebagai Kerajaan
Medang (yang
raja-rajanya bergantian antara keturunan Syailendra dan Sanjaya yang diikat dalam tali perkawinan
antar keturunan keduanya, untuk mengakhiri peperangan antar dua wangsa
keturunan Wijaya itu, yaitu Wangsa Sanjaya dan Wangsa Syailendra).
Dalam bahasa
Minangkabau, Mandailing
juga bisa diartikan sebagai mande hilang yang bermaksud "ibu yang
hilang". Oleh karenanya ada pula anggapan berdasarkan silsilah, yang
mengatakan bahwa masyarakat Mandailing berasal dari Kerajaan
Pagaruyung di
Minangkabau. itu sebabnya bahasa Melayu dialek Minangkabau masih dikenal luas
sebagai bahasa asli di wilayah-wilayah penyebaran etnis Mandailing di Sumatera.
Adat istiadat
Suku
Mandailing mempunyai aturan adat istiadat yang diatur dalam suatu tuntunan yang
bernama Surat Tumbaga Holing (Serat Tembaga Kalinga). Surat Tumbaga Holing biasanya selalu dibacakan dalam
upacara-upacara adat. Selain itu, orang Mandailing pun mengenal tulisan yang
dinamakan Aksara Tulak-Tulak atau Urup Tulak-Tulak, yang merupakan varian dari aksara
Proto-Sumatera, yang berasal dari huruf Pallawa. Bentuknya tidak berbeda dengan Aksara Minangkabau, Aksara Rencong dari Aceh, Aksara Sunda Kuna, dan Aksara Nusantara lainnya.
Meskipun
Etnis Mandailing mempunyai aksara yang dinamakan urup tulak-tulak dan
dipergunakan untuk menulis kitab-kitab kuno yang disebut pustaha / pustaka, tetapi hampir tidak ada sejarah
yang dituliskan dalam huruf itu, umumnya huruf itu hanya digunakan untuk
menulis aturan adat dan pengobatan. Sejarah Mandailing sendiri berkaitan erat dengan Sejarah Minangkabau, namun perbedaannya sejarah
Mandailing diceritakan berdasarkan garis silsilah laki-laki, sementara sejarah
Minangkabau berdasarkan garis silsilah perempuan. Oleh sebab itu, sejarah
Mandailing umumnya tertulis dalam bahasa Minangkabau.
Kekerabatan
Suku
Mandailing sendiri mengenal paham kekerabatan, baik patrilineal maupun
matrilineal. Dalam sistem patrilineal, orang Mandailing mengenal marga. Berbeda
dengan orang Batak yang mengenal sampai 500 marga, walau pun orang Mandailing
jauh lebih banyak, namun hanya mengenal belasan marga saja, diantaranya adalah Lubis Singasoro, Lubis Singengu, Nasution, Harahap, Pulungan, Batubara, Parinduri, Lintang, Hasibuan, Rambe, Dalimunthe atau Nai Monte, Rangkuti, Tanjung, Mardia, Daulay, Matondang, dan Hutasuhut.
Umumnya
marga-marga Mandailing berasal dari keturunan yang sama yaitu berasal dari
Bugis/Lubis, sehingga tanah Mandailing disebut juga sebagai Tanah Bugis (Bugih)
Lamo. Umumnya orang-orang Mandahiling tidak mengenal pelarangan perkawinan
semarga seperti yang terjadi pada etnis Batak. Tak heran, bila marga-marga di
Batak bertambah banyak karena banyaknya perkawinan semarga yang diharuskan
membuat marga baru, sementara pada etnis Mandailing hanya ada kewajiban
memotong korban berupa ayam, kamping, atau kerbau tergantung status sosial
orang Mandailing itu pada masyarakatnya.
Marga-marga
di Mandailing Julu dan Pakantan, seperti berikut: Lubis yang terbagi kepada
Lubis Kota Nopan dan Lubis Singa Soro, Nasution, Parinduri, Batu Bara,
Matondang, Daulay, Nai Monte, Hasibuan, Pulungan. Di Mandailing Godang,
Nasution juga terpecah lagi dalam beberapa marga, seperti Nasution Panyabungan,
Tambangan, Borotan, Lancat, Jior, Tonga, Dolok, Maga, Pidoli, dan lain-lain. Di
Mandailing Angkola, Lubis terpecah dalam Harahap dan Hutasuhut.
Kesenian tradisional
Kesenian
yang ada di Mandailing antara lain:
- Sibaso adalah acara yang dilakukan oleh dukun/tabib dalam rangka menyembuhkan penyakit atau memberi peruntungan pada masyarakat yang membutuhkannya. Pada masa masyarakat pra Islam, Si Baso biasanya melakukan hal-hal magis dengan upacara tertentu, untuk memenuhi keinginan masyarakat yang meminta bantuannya. Dalam riwayatnya, acara Sibaso ini diperkenalkan oleh seorang Datu (Dukun/Tabib tradisional) yang berasal dari Bugis yang tinggal di Sayurmaincat.
- Gordang Sambilan adalah alat kesenian terdiri atas sembilan gendang besar (beduk) yang ditabuh bersamaan, dalam rangka tertentu, misalnya pada hari raya. Salah satu beduk ditabuh oleh seorang raja/pemimpin wilayah, yang biasanya memulai irama penabuhan.
- Tarian Tor-tor atau Tarian Gunung-gunung adalah tarian yang dilakukan oleh raja-raja dan keturunannya di Mandailing. Tor dalam bahasa Mandailing bisa berarti gunung, bisa juga berarti bukit, yang berasal dari bahasa Arab/Ibrani, yaitu Thur. Tarian Tor-tor di Mandailing dilakukan dengan irama lambat, dengan gerakan pelan dan lembut dari penarinya, dan berpindah tempat secara pelan atau diam di tempat, sehingga terkesan sakral. Biasanya Tarian Tortor ini diiringi musik yang disebut sebagai Onang-onang. Tarian Tor-tor ini dikenal sebagai warisan dari Nabi Sulaiman yang berasal dari suku Levi's, yang diciptakan sekitar 3000 tahun yang lalu, ketika berhasil menguasai wilayah Saba'.
- Moncak atau Poncak adalah tarian yang berasal dari gerakan pencak silat. Biasanya tarian ini dilakukan dalam rombongan yang hendak mendatangi tempat yang dituju, semisal dalam rangka pesta perkawinan (Marolet/Baralek), ketika rombongan pengantin pria mendatangi tempat mempelai perempuan.
- Markusip yang berarti berbisik adalah acara yang dilakukan para bujang di Mandailing dalam rangka merayu anak gadis yang diincarnya pada tengah malam, dengan cara mendatangi bawah kolong kamar dimana sang anak gadis itu tidur (biasanya pada zaman dahulu rumah tradisional di Mandailing berbentuk rumah panggung. Awalnya, sang bujang akan meniup Tulila, yaitu alat tiup tradisional dengan irama tertentu, sehingga anak gadis yang diincarnya mengetahui keberadaannya. Selanjutnya, anak bujang akan mengeluarkan rayuan melalui pantun dan kata-kata bersyair secara berbisik-bisik, melalui lubang papan lantai, dan dibalas dengan pantun dan kata-kata bersyair pula.
- Ende-ende adalah nyanyian tradisional yang berbentuk puisi atau pantun yang dinyanyikan secara oral, yang isinya menggambarkan nilai-nilai budaya, relijius, filsafat, estetika serta hiburan, juga termasuk di dalamnya riwayat leluhur atau kisah tertentu.
- Turi-turian adalah cerita adat yang menggambarkan cerita atau kejadian di masa lalu, yang pernah terjadi dalam masyarakat Mandailing, bisa menggambarkan silsilah keluarga dan lainnya.
- Salung adalah alat musik tiup yang digunakan untuk menghibur dengan cara sambil menyanyikan sebuah cerita dalam suatu pesta adat…
Terimakasih….semoga bermanfaat buat dongan sahuta(kawan sekampung)
R@o Studio (Armand)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar